Wednesday, July 20, 2011

Terung Yang Haram

Di kota Damsyiq, ada sebuah masjid besar yang bernama Masjid Al-Taubah. Kira-kira tujuh puluh tahun yang lalu, masjid ini pernah diduduki oleh seorang pemuda, penuntut ilmu yang bernama Sulaim Al-Suyuthi. Beliau terkenal pandai dalam ilmu agama dan sangat soleh, tetapi ia sangat fakir. Ia tidak memiliki tempat berteduh selain sebuah bilik di dalam masjid Al-Taubah.

Suatu hari, Sulaim merasa sangat lapar. Sudah dua hari beliau tidak makan dan tidak memiliki apa-apa untuk membeli makanan. Pada hari ketiga, beliau merasa hampir mati. Otaknya lalu berfikir; apa yang harus dilakukan? Malah dia berasa telah sampai kepada batasan darurat yang membolehkan dirinya memakan bangkai atau mencuri sesuai keperluan. Dia memilih untuk mencuri.

Masjid Al-Taubah pada waktu itu berada di tengah-tengah kota raya. Rumah-rumah pada saat itu saling berdekatan dan atapnya saling berhampiran. Jika seseorang mahu, ia dapat berjalan hingga ke akhir kota dengan melangkah di atas atap-atap rumah. Syeikh Sulaim segera memanjat dinding masjid. Ia terus melangkah ke atap rumah penduduk. Ia melihat seorang wanita dari atap tersebut, ia segera menutup matanya dan menjauh.

Kemudian dia tiba ke sebuah rumah kosong, ia mencium dari dalamnya bau sebuah masakan. Bau itu macam magnet yang menarik dirinya untuk turun. Ia segera melompat ke dalam rumah itu dan terus berlari ke dapur. Ia segera mengangkat penutup kuali dan melihat terung-terung (bazinjan mahsyi) yang sedang dimasak.


Tangannya mengambil salah satu dari terung tersebut dan segera menggigitnya. Namun sebelum ia berhasil menelan gigitan tersebut, akal dan agamanya kembali. Hatinya segera berkata, “Auzu billah. Saya seorang pelajar agama yang tinggal di masjid. Tidak patut saya menceroboh rumah orang lain dan mencuri makanannya.”

Dia menjadi sangat menyesal. Ia lalu beristighfar dan mengembalikan terung yang telah digigitnya itu ke tempatnya semula. Ia lalu kembali ke masjid dan duduk di sebuah majlis ilmu. Namun karena sangat lapar, ia hampir tidak mengerti apa yang ia dengar. Setelah majlis itu selesai dan semua orang telah kembali ke rumah masing-masing, tidak ada yang masih berada di dalam masjid kecuali Syeikh Sulaim dengan gurunya.

Dalam keadaan itu seorang wanita berniqab tiba-tiba datang dan berbicara dengan sang guru, suaranya sangat halus. Kemudian guru itu memanggil Syeikh Sulaim lalu berkata kepadanya, “Perempuan ini memberitahuku bahawa suaminya baru sahaja meninggal dunia. Dan ia seorang yang asing di negeri ini. Tidak ada yang menjaganya selain pak ciknya yang sudah sangat tua. Ia mewarisi rumah dan semua harta suaminya. Untuk itu, ia meminta dicarikan seorang suami yang dapat menjaga dirinya dari orang-orang jahat. Mahukah engkau menikahinya?”


Syeikh Sulaim berkata, “Ya.”

Lalu Syeikh itu bertanya kepada perempuan itu, “Mahukah engkau menerimanya sebagai suami?”

Ia menjawab, “Ya.” Dia lalu memanggil pakcik perempuan itu dan menghadirkan dua orang saksi. Akad nikahpun dilaksanakan segera.

Syeikh itu lalu berkata, “Bawalah suamimu ini.”

Perempuan itu lalu memimpinnya ke rumah tempat tinggalnya. Apabila perempuan itu menyingkap niqabnya, ternyata ia adalah seorang wanita yang sangat muda dan cantik. Juga ternyata, rumah kediamannya adalah rumah yang tadi dicerobohinya.


Isterinya lalu bertanya, “Mahukah engkau makan?”

Dia menjawab, “Ya.”

Isterinya segera membuka penutup kuali dan melihat terung-terungnya. Dia segera berkata, “Hairan sekali, siapa yang telah masuk ke rumah dan memakan terungku?”

Syeikh Sulaim segera menangis dan menceritakan kisahnya kepada isterinya. Isterinya itu segera berkata, “Inilah buah daripada sifat amanah. Engkau meninggalkan sebiji terung yang haram, Allah lalu memberikan kepadamu rumah ini berserta seluruh seisinya melalui cara yang halal.”

Tinggalkan yang Haram

Kisah ini diceritakan oleh Allahyarham Syeikh Ali Al-Thantawi, seorang ulama besar di Syria yang wafat beberapa tahun lalu, di dalam ”muzakarat”nya. Beliau berkata, “Cerita ini kisah nyata. Saya sendiri mengenali tokoh-tokohnya dan saya masih ingat perincian ceritanya.” Masya-Allah, ketika membaca kisah ini saya kembali teringat kota Damsyiq yang penuh dengan ilmu dan keberkatan. Kejadian luar biasa sering terjadi di kota ini bagi orang-orang yang ikhlas menuntut ilmu kerana Allah.

Pengajaran yang terkandung di dalam kisah ini sangat jelas. Satu biji terung haram yang anda tinggalkan kerana Allah akan dibalas dengan rumah besar berserta isinya dan isteri yang cantik di dunia ini. Belum lagi balasan tidak terkira daripada Allah di akhirat kelak, ”Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti dan yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan.” (surah al-Sajdah: 17).

Meninggalkan perkara haram adalah ibadah yang paling Allah sukai. Imam Al-Tirmidzi meriwayatkan daripada Abu Hurairah bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tinggalkanlah perkara-perkara yang haram, maka engkau menjadi orang yang paling banyak ibadahnya.”

Siti Aisyah berkata, “Kamu semua tidak akan membawa amalan yang lebih baik daripada sedikit dosa. Maka barang siapa yang mahu mengalahkan seorang ahli ibadah yang tidak pernah berhenti menyembah Allah, maka tahanlah dirinya daripada dosa.”

Para ulama berkata, “Perbuatan taat dapat dilakukan oleh semua orang. Namun meninggalkan maksiat, hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang siddiq (jujur kepada Allah).”

Maimun bin Mahran, seorang ulama tabiin berkata, “menyebut nama Allah dengan lisan adalah perbuatan yang sangat baik. Namun lebih baik daripada itu ialah seseorang yang mengingat Allah ketika hampir melakukan maksiat.”



Sumber: Terung Yang Haram | Aku ISLAM http://akuislam.com/blog/kisah-tauladan/terung-yang-haram/#ixzz1Sf3X1wck

Friday, February 11, 2011

INILAH KUNCI SEGALA KUNCI YANG TERLALU PENTING.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram, kuncikebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenangan adalah kesabaran, kunciditambahnya nikmat adalah syukur, kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kunci dikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kuncididapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kuncisemua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat, kuncisemua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.
“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa. Dia jadikan nyanyian sebagai kunciperzinaan, Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kuncikegelisahan dan kegandrungan, Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci kerugian dan luputnya segala sesuatu, Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran, Dia jadikan dusta sebagai kunci kenifakan(kemunafikan -ed), Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halaldan Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid’ahan dan kesesatan.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)